Jumat, 09 Mei 2008

Telapak tangan bukan Termometer

Menempelkan telapak tangan ke dahi di Buyung atau si Upik bukan cara tepat
untuk menggolongkan suhu badannya panas, normal, atau dingin.

Naiknya suhu tubuh bukan serta merta petunjuk ia harus diminumi obat turun
panas. Dr. Paul Zakaria daGomez, ahli imunologi, menguraikan duduk
persoalannya, termasuk kapan obat turun panas diperlukan.

Setiap hari televisi menyuguhkan pelbagai macam iklan obat penurun panas.
Semuanya mengklaim serba cespleng! Orang tua mana yang tidak cemas kalau
anaknya menderita panas? Nomor satu pasti buru-buru mencari obat penurun
panas, entah dari lemari obatnya sendiri, beli di warung, atau minta
tetangga.

Setiap kali anak kita tidak enak badan, pasti gerakan refleks kita
langsung menempelkan tangan ke dahi atau lehernya. Tapi telapak tangan
sebagai alat pengukur panas sebenarnya bersifat sangat subyektif. Artinya,
ia tidak dapat digunakan sebagai patokan untuk menggolongkan apakah suhu
seseorang panas, normal, atau dingin.

Seseorang dengan metabolisme tubuh rendah atau menderita anemia di mana
suhu tangannya lebih dingin, akan lebih peka bila meraba seseorang yang
suhu tubuhnya tinggi dibandingkan dengan mereka yang metabolisme tubuhnya
normal dan suhu tangannya lebih hangat. Karena tingkat metabolisme dan
mekanisme sirkulasi darah tiap individu bervariasi, sudah tentu mengukur
suhu badan seseorang dengan punggung telapak tangan tidaklah tepat.

Karena itu setiap keluarga hendaknya menyediakan termometer air raksa yang
harganya relatif murah. Alat pengukur panas ini lebih bisa diandalkan.
Dalam keadaan sangat mendesak data tersebut bahkan bisa langsung
dikonsultasikan ke dokter lewat telepon.

Mekanisme kekebalan

Suhu rata-rata tubuh normal dan sehat seseorang menurut beberapa peneliti
barat seperti Becquerel dan Berscher (1835) dan Wunderlich (1868), adalah
37 derajat C.
Suhu tubuh normal seseorang sesungguhnya bervariasi tergantung pada waktu
pengukuran (pagi, siang atau malam), tempat pengukuran (dalam rongga
mulut, di ketiak, atau dalam dubur), faktor usia serta tingkat metabolisme
(sebelum atau sesudah makan, sebelum atau setelah melakukan aktivitas
fisik). Pengukuran suhu dengan termometer lewat rongga mulut atau dubur
akan lebih tepat daripada lewat ketiak.

Suhu tubuh paling rendah pada pagi hari (pukul 5.00 - 6.00) dan paling
tinggi senja hingga malam hari. Perbedaan antara suhu terendah dan
tertinggi bervariasi, sekitar 0,3 C-1,5 C. Semula perbedaan itu diduga
hanya karena perbedaan cuaca, suhu serta kelembapan saja, ternyata juga
karena faktor irama diurnal (saat tidur dan melek) yang berkembang sejak
usia 1 - 2 tahun dan berlangsung terus seumur hidup.

Suhu tubuh rata-rata orang dewasa di bawah 37 C. Seorang peneliti, Horvath
SM dkk. pernah meneliti 54 orang dewasa muda (usia 23 tahun) selama
beberapa bulan dengan kesimpulan, nilai rata-rata suhu rongga mulut pada
pagi hari 36,5 C dan malam hari 36,8 C.

Peneliti lain, Dinarello dan Wolff dari Inggris melaporkan, hasil
penelitian pada sembilan orang dewasa mudah (22 tahun), dalam seharinya
rata-rata suhu badan mereka 36,6 C dengan nilai terendah 36,4 C dan
tertinggi 36,8 C. Suhu rata-rata rongga mulut orang tua lebih rendah
daripada orang muda, tetapi suhu duburnya sama.

Padahal suhu anus biasanya lebih tinggi daripada suhu rongga mulut.
Perbedaan ini sangat bervariasi. Pada orang muda, suhu lubang keluaran itu
rata-rata 0,56 C lebih tinggi daripada suhu rongga mulut.

Pada anak usia kurang dari 12 tahun, suhu tubuh waktu malam hari sering
lebih tinggi, rata-rata 37,4 C. Sebagai pedoman kasar, suhu tubuh anak
yang tidak melebihi 38 C (antara 36 C - 38 C) tidak perlu dirisaukan
karena belum merupakan indikasi untuk diberi obat penurun panas. Karena
sebenarnya suhu yang agak panas malah diperlukan untuk pertumbuhan dan
sebagai salah satu mekanisme untuk mempertahankan tubuh dari serangan
infeksi atau masuknya benda asing ke dalam tubuh.

Hal ini pernah dikemukakan oleh seorang ahli imunologi - infeksi dari
Belanda, van den Meer. Kemudian, ia mengingatkan hendaknya pemakaian obat
penurun panas terlalu dini berarti tidak memberikan kesempatan pada tubuh
untuk melaksanakan fungsi mekanisme pertahanan tubuh (kekebalan). Kalau
jamur yang sedang tumbuh (misalnya pada oncom dan tempe) menghasilkan
panas dan membutuhkan kalori, demikian pula manusia. Tumbuh kembang anak
lebih pesat daripada orang dewasa sehingga secara otomatis menghasilkan
panas lebih banyak pula.

Menurunkan panas tanpa obat

Untuk mengatasi demam, lebih baik mengusahakan dulu dengan menyeka seluruh
permukaan tubuh beberapa kali (terutama sewaktu suhu tubuh meningkat)
dengan handuk kecil dibasahi air hangat.
Tindakan ini akan melancarkan sirkulasi darah dan membuka pori-pori kulit
sehingga memberikan kesempatan panas keluar dari tubuh ke lingkungan
sekitarnya. Ruang ventilasi yang baik di mana udara berlangsung secara
teratur atau kamar ber- AC, sangat dianjurkan untuk merawat penderita
demam.

Pakaian yang sudah basah karena keringat hendaknya segera diganti dengan
yang kering. Sebaiknya dari katun yang lebih mengisap keringat, bukan yang
sintetis. Bila usaha ini tidak berhasil dan suhu badan mencapai 38 C,
barulah penderita diberi obat penurun panas (anti- piretika). Dosis obat
penurun panas jenis asetaminofen, yang umum dijual di warung atau apotek
seperti Tempra, Panadol, Parasetamol, dll adalah 10 mg/kg berat badan/hari
dibagi 3 dosis (diminum 3 kali sehari).

Bila sudah diberi obat penurun panas dua kali tetapi suhu badan tetap
belum turun juga, berkonsultasilah ke dokter. Mungkin demam yang diderita
bisa karena infeksi bakteri yang agak berat yang tidak bisa mengandalkan
mekanisme kekebalan tubuh atau obat penurun panas saja, tapi memerlukan
obat antibiotika. Biarlah dokter yang menentukan pemilihan obatnya.
(intisari)

Tidak ada komentar: